LAPAR DAN HAUS AKAN KEBENARAN
Sejak para tokoh agama menyerukan perang melawan "kebohongan", issu kebohongan publik mulai ramai dibicarakan orang dari berbagai lapisan masyarakat. Menurut kamus bahasa Indonesia, berbohon berarti berkata tidak benar alias berdusta, yaitu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Misalnya jikalau seseorang berkata bahwa ia belum pernah menikah, padahal ia telah mempunyai istri, maka ia adalah seorang pembohong atau pendusta. Para tokoh agama menyerukan perang melawan "kebohongan" karena "kebohongan" telah merasuki sebagian besar masyarakat, sehingga dewasa ini "kebenaran" semakin sulit ditemukan.Pada hari Minggu Biasa keempat ini, Gereja mengajak semua warganya untuk merenungkan, sejauh mana mereka sudah tidak lagi "berbicara bohong" dan "berlidah penipu" (bdk. Zef.3:13), melainkan selalu "lapar dan haus akan kebenaran" (bdk. Mat. 5:6). Ajakan Gereja ini sulit untuk dipatuhi, karena dalam masyarakat yang suka akan "kebohongan", orang yang suka akan "kebenaran" biasa menjadi korban penganiayaan, Jadi memang patut direnungkan, sejauh mana semua warga Gereja rela berkorban demi "kebenaran". Sebab Yesus berkata : "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah empunya KerajaanSorga !" (bdk. Mat. 5:10)
(Warta Paroki St. Yoseph Pekerja Tahun XXXVI No. 38 29-30 Januari 2011)
0 comments:
Post a Comment